[CHAPTER] TROUBLE – Part 4 : Political Turnover

trouble

 

Tittle: TROUBLE [Part 4: Political Turnover] | Author: farvidkar | Genre: Action, Politic, Romance | Cast: Cho Kyuhyun Ahn Aeyeon (OC) | Other cast: Hong Yoonjae, Shim Chang Min, Choi Minho and etc | Rating: PG | Poster by imjustAGIRL

 

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi. Sebelumnya aku sudah pernah mempublish ff ini, namun postingan sekarang adalah hasil revisi dari postingan sebelumnya.

 

 

 

Tumbuh dewasa, berpikiran terbuka, bebas bercinta..

Terima kasih karena telah mengijinkan aku tumbuh dewasa bersamanya. –Aeyeon

Aku bahagia bisa berada di sampingnya, dan kuharap akan selalu seperti ini. –Kyuhyun

Apakah dia takdirku? Aku ingin melangkah lebih jauh jika pada akhirnya dialah pendampingku –Kyuhyun and Aeyeon

 

Hingga saat ini kalian masih terlihat indah, walaupun satu persatu mulai meninggalkan tangkainya –Aeyeon

 

Angin semilir menyapu dedaunan kering, genggaman tangan semakin erat. Hingga detik ini kami masih bersama, sebagai pasangan kekasih. Apa yang kami harapkan dalam hubungan yang dijalin selama 2 tahun ini?, entahlah hanya hati kami yang tahu. Mempertahankan tanpa mengetahui tujuan, itulah yang kami lakukan.

“Pabo-ae, lepaskan headsetmu” kata Kyuhyun sambil melepas paksa headset yang dipakai Aeyeon.

“Yak! Apa kau tahu, aku sedang mendengarkan lagu oppadeul super junior!!” Aeyeon geram dengan tingkah laku Kyuhyun yang selalu membuatnya jengkel, anehnya perasaan jengkel itu selalu hilang setelah Kyuhyun menatap bola matanya.

“Apa bagusnya super junior jika dibandingkan dengan diriku. Apa kau tidak bisa menikmati kencan kali ini? Susah payah aku meluangkan waktu demi wanita berdada rata di sampingku ini” kalimat pedas keluar dari mulut Kyuhyun itu membuat kuping Aeyeon panas, dan langsung dihadia-hi jitakan keras tepat di kepala Kyuhyun.

“Pria bodoh ini akan menyesali perkataannya” oceh Aeyeon sembari meninggalkan Kyuhyun yang tersenyum jahil.

….

At Ahn Residence, Myeongdong

Aeyeon Pov

Hari yang tidak terlalu buruk untuk menghabiskan waktu bersama pria itu. Sudah lama tidak berkencan dengan Kyuhyun yang sibuk bekerja sebagai intelegen. Senyum tak kunjung lepas dari bibirku mengingat-ingat kencan kami hari ini. Cintaku padanya tak pernah berubah, selalu sama dan terus bertambah seiring waktu. Tiba-tiba ponselku bergetar, menandakan ada pesan masuk.

From: Hyun-ppa

Jangan tersenyum seperti orang gila. Jangan mengkilah! Karena aku selalu benar. Bunuh aku jika aku salah.

“Pria itu benar-benar percaya diri. Apa dia memasang sisi TV di rumahku?”

To: Hyun-ppa

Ya! Apa kau memasang sisi TV di rumahku?

Aku tak yakin apakah Cho Kyuhyun mempunyai kekuatan membaca pikiran seperti di film-film, tetapi dia selalu bisa membaca pikiranku. Aku bersyukur mendapatkan pria seperti dia. Menyebalkan tetapi membuatku semakin bertambah sayang.

….

At Kyuhyun Apartement, Gangnam

Kyuhyun Pov

Membiarkan diriku berbaring di atas ranjang yang empuk bagaikan hadiah besar dari pekerjaanku selama ini. Hanya waktu istirahatlah yang ku butuhkan saat ini. Banyak kasus yang ku tangani sehingga banyak waktu yang ku korbankan untuk keluarga dan kekasihku. Prioritas utamaku adalah keluarga dan cinta, tetapi prioritas yang disarankan mereka padaku adalah pekerjaan. Apakah aku egois jika mempriotaskan pekerjaan? Sesungguhnya pekerjaanku berpengaruh besar terhadap negara, tidak hanya satu negara tetapi hampir keseluruhan negara. Tetapi aku mengerti apa itu profesionalitas. Jika aku profesional pada karir, aku juga akan menyeimbangkannya pada percintaan. Ya, aku hanya pria muda yang memerlukan cinta. Hari ini aku menyempatkan diri untuk berkencan dengan gadis itu. Merasakan kebebasan layaknya pria normal. Apa kalian tahu apa hal yang kusuka dari gadis itu? Tidak ada. Mengapa? Karena aku tidak hanya sekedar suka, tetapi sangat suka. Tiba-tiba lamunanku buyar karena ponsel yang bergetar.

From: Pabo-Ae

Ya! Apa kau memasang sisi TV di rumahku?

“Cih gadis itu kekanakan sekali. Mana mungkin aku memasang sisi TV di kediaman tuan Ahn. Bisa-bisa aku tidak direstui oleh orang tuanya. Lebih baik jika dia berpikir aku selalu bisa membaca pikirannya, hal itu terlihat lebih keren”.

….

At Ahn Recidence, Myeongdong

Author Pov

Berbagai menu makanan tersedia di atas meja. Tuan rumah, Ahn Jun Pyo telah menunggu anak tunggalnya beserta istrinya sambil membaca koran. Pria yang telah menginjak kepala empat ini terlihat berbeda jika berada di rumah. Dia benar-benar menunjukkan sikap kebapak-an dan selalu terlihat berwibawa dimana saja.

“Tuan, ada telefon dari sekertariat Partai” kata salah seorang pelayan bermarga Nam di kediaman Ahn.

“Bilang saja saya sedang menghabiskan waktu bersama keluarga, dia pasti mengerti” ucap tuan Ahn sembari meneguk teh hangat miliknya.

“Baik tuan” jawab pelayan itu. Tak lama Aeyeon datang menghampiri Ayahnya dengan mengenakan hanbok.

“Appa..” sapa Aeyeon manja sambil mencium pipi ayahnya.

“Sudah berapa umurmu nak? Kenapa bertambah manja?” gurau tuan Ahn.

“Aish, apa kau tahu anakmu yang cantik ini sangat mencemaskan kesehatanmu? Akhir-akhir ini ayah selalu terlihat kelelahan” jelas Aeyeon dengan tampang cemberut. Ahn Jun Pyo adalah salah satu kandidat calon presiden yang paling berpotensi. Terlahir dari keluarga politikus, sehingga jiwa berpolitik mengalir dalam darahnya. Istrinya Choi Min Suk, adalah seorang pebisnis. Min Suk adalah anak tunggal dari Grup Hansol, perusahaan tambang emas dan minyak terbesar di Asia. Keluarga Ahn benar-benar kaya dan terpandang. Banyak yang mengincar kekayaan mereka. Ditambah lagi, Ahn Jun Pyo menjadi kandidat calon presiden, semua mata tertuju pada keluarga chaebol ini.

“Yeon-ah, kau membuat ibu sedih. Apakah hanya ayahmu yang sedang duduk disini?” goda nyonya Ahn yang dari tadi hanya menyaksikan kemesraan ayah anak chaebol.

“Mianheo amma-ya, hari ini aku hanya akan memanjakan appa” gurau Aeyeon mengedipkan sebelah matanya.

….

At Starbucks, Seoul

Matahari yang terik membuat pantulan yang dahsyat dari cermin. Siang ini Kyuhyun dalam misi menangkap pelaku teror bom kedutaan besar Japang di Korea Selatan. Sebenarnya kasus ini bisa saja hanya ditangani NIS, tetapi karena menyangkut salah satu negara PBB sehingga FBI turun tangan untuk meringankan tugas NIS beserta Naico (Intelejen Jepang). Kyuhyun duduk di sudut cafe agar tidak terlalu mencolok. Mata elang pria bermarga Cho itu masih terus mengintai gerak gerik seorang pria berkemeja biru yang berada tak jauh dari tempatnya. Tiba-tiba breaking news yang terpampang di layar TV mengundang perhatian Kyuhyun. Berita yang meliput perkenalan keluarga salah satu kandidat calon presiden, Ahn Jun Pyo. Kyuhyun tersenyum sejanak menatap layar TV LCD yang memperlihatkan wajah gadisnya itu sebagai anak tuggal keluarga Ahn.

“Dia masih saja cantik” tiba-tiba sebuah suara menghancurkan lamunan Kyuhyun. Suara yang dikenalnya. Pria tinggi berwajah tampan telah duduk dihadapan Kyuhyun sambil meneguk coffee cup dengan asap yang masih mengepul.

“Sangat cantik” sambung Kyuhyun tak lupa menunjukkan senyum miringnya.

“Apa kau akan membiarkan pria itu kabur dan memilih melihat berita itu?” tanya Yoonjae sedikit bergurau.

“Aku tahu dia akan kabur kemana” jawab Kyuhyun tersenyum meremehkan dan langsung berjalan meninggalkan Yoonjae sendirian.

“Tidak ada selera humor” gumam Yoonjae.

….

At Beijing, Republic Rakyat China

Pria berkacamata hitam itu berjalan memasuki hotel berbintang lima di Beijing. Berjalan memasuki lift diikuti asistennya, menuju lantai 63. Seketika berhenti di depan kamar bernomor 7990, pria itu melepaskan kacamata-nya. Tak lama seseorang dari dalam kamar mempersilahkannya masuk. Sambutan suasana mencekam terjadi di dalam ruangan itu. Pria-pria berbadan tinggi besar masing-masing memegang senjata berjaga sesuai posisinya.

Tak lama seorang pria kira-kira berumur 40 tahun diseret keluar dari dalam kamar mandi. Dengan wajah babak belur, pria itu diperlakukan tidak sewajarnya.

“Prof. Kim, bagaimana kabar anda?” sapa pria berkebangsaan China itu. Pria yang bermarga Kim itu hanya bisa menatap nanar tanpa merespon akibat bengkak di sekitar pipi-nya.

“Apa yang kalian lakukan hah?! Dasar bodoh! Sudah ku katakan jangan melakukan kekerasan pada pria tua ini! Jika dia mati apa yang akan kita dapatkan!” bentak pria berkebangsaan China itu menggunakan bahasa korea yang fasih. Para anak buahnya hanya diam menunduk. Tak ada yang berani mengangkat kepala mereka.

“Apa kalian tidak punya mulut?” tanya pria itu lagi.

“Maafkan kami tuan” ucap mereka sambil membungkuk.

“Seharusnya setelah ini kalian harus kuhabisi.” Ucap pria itu sambil memasang kaca mata hitamnya kembali. Semua mata menatap kaget bercampur takut akibat kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria itu.

“Semua manusia memang menginginkan umur panjang. Bahkan, orang yang bunuh diri akan berpikir dua kali ketika menatap ajalnya” lanjut pria china itu sambil berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

….

At Daegu, On the road

Kyuhyun mengendarai Lamborghini Aventador LP700-4 Roadster di jalanan yang ramai. Menyalip 5 mobil beruntun menimbulkan bunyi klakson dari pengendara lain yang terganggu. Tiba-tiba ponsel Kyuhyun bergetar menandakan ada sms masuk.

From: Pabo-Ae

Apa kau sibuk? Ayah mengundang kau makan malam bersama setelah debat KCP. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini untuk bertemu calon mertuamu.

Kyuhyun tersenyum membaca pesan dari Aeyeon. Tentu saja pria ini tak akan menyia-nyiakan kesempatan makan malam bersama keluarga Ahn. Terlebih lagi Kyuhyun kenal baik dengan orangtua Aeyeon. Dengan sekali gerakan, Kyuhyun memainkan jemarinya di atas layar touchscreen handphone-nya, menelfon seseorang.

“Bolehkah aku memberi goresan pada target kita kali ini? Aku tak mau membuang waktu lagi. Nanti malam aku ada acara penting, yang menyangkut masa depanku” jelas Kyuhyun pada seseorang di seberang telefon.

….

At Saltern, Daegu

Mobil Kyuhyun terparkir rapi di depan pabrik garam yang kini telah menjadi gudang. Waktu menunjukkan pukul 19.03 menyebabkan keadaan gelap di daerah ini. Bangunan yang kini tak terurus dan terletak di tempat yang jauh dari jalan raya menjadikan tempat ini cocok untuk dijadikan tempat persembunyian. Kyuhyun melangkahkan kakinya berdiri tepat di depan pintu bangunan tua ini. Mengeluarkan handphone-nya kemudian menyetel stopwatch.

“Mari kita cetak rekor terbaru” gumam Kyuhyun dan langsung mengeluarkan pistol dari saku jaketnya. Tak lama sambutan hangat dari para teroris diterima Kyuhyun. Cukup mengejutkan mengingat informasi dari NIS hanya ada sekitar 4 teroris, nyatanya ada kira-kira 35 teroris yang kini menodongkan pistolnya ke arah Kyuhyun.

“Sepertinya kalian mendapat bocoran akan kedatangan tamu” ucap Kyuhyun setelah itu dia melepaskan tembakan ke arah token, menyebabkan keadaan gelap gulita. Agen yang diutus ke tempat ini hanya Kyuhyun, sehingga keadaan terdesak ditanggung sendiri olehnya. Dengan berat hati pria itu terjun langsung menggunakan keahlian bela dirinya mengingat peluru yang dibawanya tidak akan cukup untuk menembak 35 teroris di sini. Teroris bukanlah orang yang jago bergulat, mereka lebih terlatih untuk merakit dan mengatur strategi, di sisi inilah keuntungan Kyuhyun. Tendangan keras diarahkannya kepada seorang pria yang menggenggam pistol. Dari arah lain datang seseorang yang siap memberi pukulan yang mengarah ke punggung Kyuhyun, tetapi seberapa terlatih Kyuhyun dalam medan perang seperti ini. Dengan cepat Kyuhyun berlari ke arah susunan tong minyak yang berada di sudut kiri, satu hentakan Kyuhyun menendang tong tersebut hingga terbalik menyebabkan minyak di dalamnya tumpah. Kyuhyun duduk di atas tong tersebut kemudian dengan gerakan lambat yang seolah-olah telah dibuat-buat mengeluarkan macis dari saku jaketnya.

“Kedengarannya mati terbakar lebih mengasyikkan, wajah kalian akan terpampang di halaman depan koran” seru Kyuhyun membuat para teroris yang babak belur itu langsung berlarian ke arah pintu.

“Untuk apa lari toh pada akhirnya sama saja, kalian akan mati. Entah di penjara atau di sini” lanjut Kyuhyun. Tak lama saat pintu yang sebelumnya telah dikunci, kini berhasil terbuka karena dobrakan paksa dari para teroris itu dan mereka telah disambut oleh para aparat yang berdiri mengarahkan pistolnya. Tugas Kyuhyun selesai. Pria itu berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar dari bangunan rusak itu, tetapi baru langkah pertama dia berhenti dan menatap nanar ke bawah.

“Aish, sepatuku kotor” gumam Kyuhyun tak jelas karena tidak sengaja menginjak minyak hitam yang tadi ditumpahkannya.

….

At S’Pallegrino, Seoul

Setelah debat kandidat calon presiden yang menyisakan kesan baik pada Ahn Jun Pyo, kini pria paru baya itu menghadiri makan malam keluarga bersama anak dan istrinya. Memesan tempat terbaik dan restaurant terbaik di korea, serta hidangan yang tak kalah menakjubkan.

“Apakah appa akan membuang-buang uang seperti ini?” tanya Aeyeon pada ayahnya sambil menunjuk puluhan makanan yang entah akan habis atau tidak.

“Lebih baik kau menjadi penasihat keuangan” gurau tuan Ahn.

“Yak! Aku hanya kasihan saja melihat hidangan ini pada akhirnya akan masuk ke tempat pembuangan sampah” jelas Aeyeon. Ada benarnya pemikiran gadis muda ini, keluarga chaebol tak seharusnya menghaburkan uang walaupun demi makanan. Jika itu berlebihan tidak baik dan akan mendapatkan kesan yang buruk pula dari para arwah gelandangan yang mati kelaparan.

“Pada akhirnya eomma akan memaksa semua makanan ini masuk ke perut calon menantu eomma” kata nyonya Ahn tersenyum melihat wajah cemberut anak tunggalnya itu. Tak lama Kyuhyun datang menggunakan jas hitam, terlihat tampan, sangat tampan hingga berhasil menarik perhatian para pelayan di situ.

“Maafkan saya terlambat appa dan eomma” hormat Kyuhyun sopan kepada kedua orangtua yang tersenyum ramah kepadanya. Keluarga Ahn telah menganggap Kyuhyun sebagai anaknya sendiri.

“Saya mengerti Kyuhyun-ah, silahkan duduk nak” Tuan Ahn mempersilahkan Kyuhyun duduk. Kyuhyun sesekali melirik Aeyeon yang menatapnya penuh minat.

“Yeon-ah apa kau sebegitu tertarik pada Kyuhyun? Jangan menatap seolah-olah kau ingin mencengkram pria itu hidup-hidup” kata nyonya Ahn menggoda putrinya yang kini menahan malu setengah mati.

“Bagaimana pekerjaanmu nak?” tanya tuan Ahn pada Kyuhyun yang kini tengah terduduk tegang.

“Seperti biasa, selalu dipenuhi masalah. Tetapi sampai saat ini masih terkendali” jelas Kyuhyun. Tuan dan nyonya Ahn mengangguk.

“Pastikan kau masih terus hidup jika mau menikahi putriku yang menyebalkan ini” tambah tuan Ahn.

“Apakah artinya appa memberiku lampu hijau?” tanya Kyuhyun kaget.

“Siapa bilang? Saya hanya bercanda agen cho” seru tuan Ahn membuat hati Kyuhyun kembali dongkol.

“Appa tau kalau Kyuhyun seorang agen?” tanya Aeyeon kaget. Selama ini yang tahu kalau Kyuhyun adalah seorang agen hanya dia.

“Tentu saja, ayah yang mengenalkan Kyuhyun pada pamanmu, Russel” jelas tuan Ahn. Pimpinan FBI saat ini adalah Russel William, adik tidak sedarah dari Ahn Jun Pyo.

“Ngomong-ngomong eomma Ahn, lebih baik anda membatalkan niat untuk membeli lokasi saltern di Daegu. Tadi saya baru saja menangkap teroris yang meneror kantor kedubes Jepang. Mereka berpusat melancarkan pekerjaan di tempat itu” jelas Kyuhyun memberi informasi pada presdir Hansol Grup.

“Ah pantas saja tadi sebelum kesini saya mendapat telefon dari sekertaris Jung” kata nyonya Ahn sembari mengambil gelas wine di meja, tetapi tak sepersekian detik peluru meluncur menghantam dinding gelas wine itu, mengakibatkan gelas itu pecah hingga pecahan belingnya berserakan di lantai. Lampu di restaurant-pun padam. Kyuhyun mengamankan nyonya dan tuan Ahn untuk menunduk dengan penuh hati-hati. Sementara tak ada reaksi dari Aeyeon. Gadis itu hanya diam di tempat duduk dengan wajah mengadah ke bawah.

“Aeyeon-ah! Ahn Aeyeon!” panggil Kyuhyun sambil mengguncang-guncangkan badan Aeyeon. Kyuhyun tak bisa melihat keadaan Aeyeon dikarenakan padamnya listrik. Nyonya dan tuan Ahn semakin panik hingga ingin menghampiri anaknya yang tak bergeming. Tetapi Kyuhyun menegaskan mereka tidak boleh bergerak ke sini. Tak berapa lama lampu kembali menyala. Kyuhyun tercengang melihat tubuh Aeyeon tertancap bius yang telah tercampur racun. Permukaan kulit yang tertancap itu sudah membiru. Kyuhyun langsung bangkit dan menggendong Aeyeon ke mobilnya, sementara nyonya dan tuan Ahn sudah di jemput oleh bodyguard keluarga mereka. Kyuhyun mengendarai mobilnya secepat mungkin, dengan wajah penuh keringat di dalam pikirannya hanya satu, gadis itu harus selamat. Kyuhyun tahu apa penyebabnya. Obat bius yang diberi akan bereaksi selama 7 jam. Dan ditambah lagi kekhawatiran terbesar karena dicampur dengan racun Hemlock. Kyuhyun pernah menerima pelatihan tentang racun-racun yang dibuat dengan sengaja oleh para intelegen, dan pada kejadian ini yang ditemukannya adalah hemlock, yaitu racun yang digunakan untuk membunuh Socrates menurut filsuf Yunani. Dalam larutan Hemlock konsentrasi tertinggi racun cicutoxin ditemukan, yang diperoleh dari bagian akar tanaman. Tiga tetesan pada akar tanaman Hemlock dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa, awalnya kegagalan otot, kejang-kejang, dan pada akhirnya kematian. Hanya 10 menit Kyuhyun mengendarai mobilnya hingga sampai di RS International Seoul. Para medis langsung memberi penanganan utama. Orangtua Aeyeon datang dengan tergesa-gesa. Ibu Aeyeon meneteskan air mata melihat pintu UGD yang membatasi mereka dengan anaknya.

“Racun hemlock. Aeyeon baru sampai tahap pertama” ucap Kyuhyun terduduk lemas di samping ayah Aeyeon.

“Aku menyuruhmu untuk terus bertahan hidup, tetapi nyatanya kini anakku yang…” kata tuan Ahn terputus

“Dia akan terus hidup” sanggah Kyuhyun cepat.

….

At Baiyun Guangzhou International Airport, China

Keramaian tak pernah luput di bandar udara international ini. Seperti hari ini, kesibukan para pebisnis terlihat jelas. Salah satunya seorang pria berkebangsaan China yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.

“Lee Junho, kau urus masalah di China. Aku akan ke Seoul hari ini” ucap pria China itu singkat kemudian langsung mematikan sambungan telefon tanpa menunggu jawaban dari pria bernama Lee Junho itu.

“Tuan Zhang, pesawat anda akan segera take off” suara seorang pria mengingatkan pria berdarah china yang bermarga Zhang itu.

….

At National Intelligence Service (South Korea)

Pria bermarga Hong masih terus berkutat di hadapan layar computer yang tak kunjung berhenti beroperasi selama kurang lebih 24 jam. Mendapat mandat dari sang ayah untuk menyelidiki latar belakang para kandidat calon presiden merupakan hal yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Ada 4 pasang kandidat dan mereka semua memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari politikus, pebisnis, hingga militer. Cukup menjengkelkan menguak kehidupan sosial para calon presiden ini dari masa mereka merintis, banyak cerita palsu yang ditemukan Yoonjae. Dan kini dia bekerja sendiri.

“Apa yang kau temukan?” suara berat seorang pria tua menghancurkan konsentrasi Yongjae.

“Rumit, kau pasti tak akan percaya” jawab Yoonjae dengan tatapan yang sulit dimengerti.

….

At RS International Seoul

Di kamar nomor 302 dilakukan pengamanan ketat. Aeyeon masih terbaring kaku di atas ranjang. Untung saja gadis itu masih bisa tertolong. Bagaimana nasib keluarga Ahn jika anak mereka itu meninggal? Tidak ada yang akan merawat mereka jika tua nanti. Tidak ada yang dinantikan mereka di masa depan. Nyonya Ahn masih setia menunggu anak semata wayangnya siuman, sementara tuan Ahn sedang menghadiri konfrensi pers mengenai peristiwa penembakan itu. Nyonya Ahn membuka tirai jendela membiarkan cahaya matahari yang tidak terlalu menyengat itu mengenai permukaan telapak tangan Aeyeon. Entah keajaiban apa yang terjadi, jari-jari lentik gadis itu bergerak.

….

At COEX, Seoul

Gedung yang kini telah jatuh kepemilikan sahamnya ke tangan wanita paru baya, disulap menjadi gedung serbaguna berkelas dengan kelas presiden suit. Tatapan para wanita tertuju pada seorang pria yang datang dengan tuxedo hitamnya. Pria itu Zhang Yizing. Seperti tamu undangan penting, ada beberapa pelayan yang menyambutnya dengan hangat mempersilahkan pria itu berjalan ke arah restaurant yang terletak di sudut kiri gedung. Tatanan klasik dan elegant bercampur, memperlihatkan gaya korea kuno kepada para pengunjung. Di sebelah kolam ikan sudah ada seorang wanita paru baya dan suaminya yang berdiri menyambut Zhang Yizing dengan senyum hangat.

“Sungguh kehormatan bagi saya di sambut oleh kedua orang penting di Korea Selatan ini” sapa Yizing dengan sopan.

“Sekian lama di Beijing, apa kau lupa kalau aku ini masih seorang istri simpanan?” gurau wanita paru baya itu sembari mempersilahkan duduk.

“Jika masih ingin mempertahankan kekayaan, hanya itu cara yang bisa dilakukannya” kali ini pria paru baya itu angkat bicara memperjelas dengan bahasa kiasan.

“Langsung saja pada intinya” kali ini tak ada senyum dari wanita itu, karena terasa tersindir dengan ucapan suaminya. Yizing tersenyum mengejek.

“Saya sudah membeli rakitan kapal selam nuklir dari Rusia, jenis Vanguard dengan persenjataan yang dilengkapi torpedo kelas berat Spearfish, 16 rudal balistik Lockheed Trident D5 SLBMs, kecepatan 29 knot, panjang 150 m, lebar 13 m, draft 12 m, total muatan awak 135” jelas Yizing melaporkan penjelasan kepada sepasang suami istri itu.

“Bagus, apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” tanya pria paru baya itu sembari meneguk teh korea dengan asap yang terus mengepul.

“Saya tidak menyerahkan kendali penuh pada pihak Rusia, mengingat pihak AS pasti akan mencium gelagat kami dengan mudah. Kapal akan dirakit oleh Prof Kim Joong Kok ahli persenjataan. Saat ini dia saya tahan di Beijing” jelas Yizing lagi. Jelas ada persekongkolan yang dirahasiakan dari negara mereka.

“Baiklah, kau atur saja. Urus pendanaan dengan Ester Zhang. Kau akan ku kenalkan dengan tuan Choi seorang intelejen yang bekerjasama dengan kami, semoga kalian dapat bekerjasama” kata pria paru baya itu bangkit dari kursinya kemudian meninggal tempat itu menyisakan mereka berdua.

“Jadi, apa kau baik-baik saja di sana? Aku mencemaskanmu nak. Setiap kali ibu menelfon kau tidak pernah mengangkat telefon. Apa kau masih sering bercinta dengan wanita-wanita jalang itu?. Apa ada yang memberimu makanan enak? Apa tidurmu nyenyak? Apa yang pihak Rusia bicarakan denganmu? Apa kau menerima uang yang ibu kirim? Apa ada wine yang lebih enak dari pada di sini?” tanya nyonya Ester Zhang, wanita paru baya yang ternyata adalah ibu dari Zhang Yizing. Sepertinya anak dan ibu itu sudah lama tidak bertemu.

“Apa ibu bisa mengurangi pertanyaanmu?” jawab Yizing jengkel. Dia bisa kehabisan nafas dengan menjawab pertanyaan beruntun itu.

“Jawab saja” kata nyonya Ester dengan senyum yang terus mengembang. Entah dia mengabaikan atau menerima jawaban ketus anaknya, dia tetaplah seorang ibu walaupun dengan lebel yang tidak selayaknya.

“Aku baik. Aku masih bermain-main dengan wanita jalang. Makanan yang kumakan selalu enak. Tidurku tidak pernah nyanyak karena memikirkan hari esok. Pihak rusia hanya membicarakan pekerjaan. Ya aku menerima uang itu. Dan wine yang ada di China memang lebih enak dari yang disini” jelas Yizing panjang lebar.

“Kau harus merubah masalah percintaanmu nak” saran Ester Zhang prihatin pada anaknya.

“Jika kau memberi saran seperti itu, apakah kau juga berharap suami-mu akan meninggalkan wanita jalang yang menyandang sebagai istri simpanan?” perkataan pedas keluar dari mulut Yizing. Pria itu bangkit kemudian berjalan meninggalkan ibunya yang geram.

“Setidaknya ibumu ini wanita jalang yang kaya raya sebelum bertemu pria itu!!” teriak Ester Zhang tak terima.

….

At RS International, Seoul

Keluarga besar Ahn tengah bersyukur, tuan Ahn duduk di samping anaknya yang tertidur lemas sambil menggenggam tangan gadis itu. Dengan mata terpejam, gadis itu terus bermanja-manja pada ayahnya. Sementara nyonya Ahn hanya bisa menatap kemesraan ayah dan anak. Tak lama ada ketukan pintu menandakan ada seseorang yang ingin bertamu. Setelah dipersilahkan, ternyata orang itu adalah Cho Kyuhyun. Aeyeon buru-buru merubah posisinya seperti orang yang tidak sadarkan diri.

“Kau datang diwaktu yang tidak tepat Hyunnie” itulah bentuk sapaan yang diberikan nyonya Ahn pada Kyuhyun yang kini menatap Aeyeon dengan pandangan kecewa. Sepersekian detik kemudian alis Kyuhyun terangkat.

“Apa kalian mengerjaiku?” tanya Kyuhyun sakartis yang langsung membuat tawa kedua orang tua itu pecah, begitu juga Aeyeon yang ikut tertawa karena aktingnya diketahui Kyuhyun.

“Yak! Bisakah kau sekali saja pura-pura tidak tahu?” ujar Aeyeon jengkel pada Kyuhyun yang memasang tampang terbodohnya. Di dalam pikiran Kyuhyun kini ‘apakah keluarga ini layak menyandang gelar keluarga kepresidenan? Tingkah laku mereka sungguh kekanak-kanakan’

“Jika kau berpikiran keluarga kami sangat kekanak-kanakkan, siap-siap kau akan saya blacklist” ancam tuan Ahn yang kemudian diikuti tawa pecah mereka.

….

At Cascais Apartment, Sumsandong

Gaya klasik dengan lukisan-lukisan mahal terpajang di dinding apartment yang kira-kira berharga jutaan dolar. Seorang wanita meneguk wine sembari bersandar di kursi dengan ukiran yunani kuno. Wanita itu mengeluarkan ponselnya, kemudian menekan beberapa digit nomor.

“Matahari telah lama terbenam, begitupun telah lama kita tidak berkomunikasi. Apa kau merindukanku?” Ester Zhang angkat bicara.

“Tentu saja aku merindukanmu” jawab seorang pria dari seberang telefon.

“Apa yang kau rindukan? Diriku? Atau kapal senam nuklir itu?” goda wanita itu sambil meneguk wine.

“Tentu saja pilihan kedua. Walaupun kau belum merubah marga, tetapi kau tetap saja istri dari rekan bisnisku” jelas pria itu terus terang.

“Baiklah karena kau menyindirku, aku akan langsung ke intinya. Kami telah mendapatkan bahan rakitan kapal itu, tetapi kami akan merakit sendiri kapal itu. Mohon kesabaran waktunya” jelas Ester Zhang.

“Kami mengerti maksud kalian. Baiklah kalau begitu selamat malam” pria di seberang memutuskan telefon sepihak. Ester Zhang menggeram kesal.

….

At Federal Bureau of Investigation Office, Gyenggi-do

Cahaya bulan menyelusup di balik tirai kantor Kyuhyun. Sementara pria itu tengah tenggelam dengan aktifitasnya bermain starcraft. Bukan untuk membuang-buang waktu, tetapi berusaha memecahkan kasus penembakan di S’Pallegrino. Tak lama telefon berdering menandakan akan ada kasus yang mengundang pria itu.

“Kyuhyun-ah nyalakan teleconfrence” ucap seseorang di seberang tanpa berbasa-basi. Kyuhyun langsung menekan tombol remote yang kini pada layar tengah menampilkan beberapa pasang mata dari para petinggi intelejen.

“Maaf menggangu waktu kalian, kami telah menemukan kejanggalan dari salah satu kandidat calon presiden. Spesifikasi telah kami kirim ke email kalian masing-masing. NIS perlu bantuan kalian untuk turun tangan.” Jelas seseorang yang diketahui bernama Hong Jong Il. Setelah sambungan layar terputus, Kyuhyun langsung memutar kursi kemudian mengecek laptopnya yang kini memperlihatkan profil target. Cukup kaya raya, terlatih, dan mungkin punya banyak koneksi.

“Sepertinya kasus ini akan sedikit rumit” gumam Kyuhyun.

 

To be continue

 

Advertisements

2 thoughts on “[CHAPTER] TROUBLE – Part 4 : Political Turnover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s