[CHAPTER] TROUBLE – Part 5 : Political Turnover

trouble

Tittle: TROUBLE [Part 5: Political Turnover] | Author: farvidkar | Genre: Action, Politic, Romance | Cast: Cho Kyuhyun Ahn Aeyeon (OC) | Other cast: Hong Yoonjae, Shim Chang Min, Choi Minho and etc | Rating: PG | Poster by ImjustAGIRL

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi. Sebelumnya aku sudah pernah mempublish ff ini, namun postingan sekarang adalah hasil revisi dari postingan sebelumnya.

 

 

 

At Kyunghee University, Seoul

Semua mata tertuju pada seorang gadis berambut panjang yang baru saja turun dari mobilnya. Ya, gadis itu adalah salah satu anak dari orang terpandang di Korea Selatan. Aeyeon risih dengan tatapan seribu macam yang di arahkan kepadanya, entah iri, kagum, ataupun sirik. Setelah ia tampil di TV sebagai anak tunggal dari Ahn Jun Pyo, serta kasus penembakan itu, banyak perubahan sosial yang didapatkannya.

“Lama tak jumpa, Yeon-ah” suara seseorang yang menyapa Aeyeon membuat gadis itu terpaksa menoleh ke sumber suara. Nafas gadis itu tercekat, otaknya memaksakannya kembali ke scene 2 tahun yang lalu.

“Apa yang kau lakukan disini, Yoonjae-ssi?” tanya Aeyeon berusaha setenang mungkin. Dia mencintai Kyuhyun dan sudah melupakan pria yang ada dihadapannya, tetapi rasa benci masih saja tersirat dibenaknya.

“Terlalu formal. Seperti biasa, aku sedang mengorek informasi. Tetapi tenang saja, kali ini bukan kau” jelas Yoonjae sambil mengacak-acak rambut Aeyeon dan setelah itu meninggalkan gadis itu mematung.

….

At Starbucks, Seoul

Duduk di sudut cafe sambil memainkan laptopnya, Aeyeon tidak duduk sendirian, gadis itu ditemani Lee Ji Eun teman kuliahnya. Ji Eun setahun lebih tua dari Aeyeon, dan gadis itu juga berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya juga seorang kandidat calon presiden. Tak heran banyak mata memandang karena anak dari kandidat calon presiden sedang minum bersama. Mereka sudah seperti adik kakak semenjak bertemu di bangku kuliah.

“Yeon-ah, apa kau tidak bosan memainkan permainan itu?” Jieun angkat bicara menatap bosan dongsaengnya itu.

“Jika kau terjun ke dalam medan perang, kau akan berubah seperti aku” hanya itu jawaban Aeyeon, kalimat kiasan khas Ahn Ae Yeon.

“Terserah kau saja. Tetapi jangan heboh jika teman pria-ku datang” ucap Jieun yang langsung mendapatkan perhatian Aeyeon.

“Siapa?” tanya Aeyeon penasaran

“Lihat arah jarum jam 9” tak ada kehebohan yang ditunjukkan Aeyeon, melainkan hanya kerutan pada alis yang ditunjukkan gadis itu.

“Aku malah ingin menangis” ujar Aeyeon dengan wajah bodohnya menatap Yoonjae datang bergabung.

….

At Seoul, on the road

Tidak biasanya Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan tenang. Changmin sahabatnya menatap Kyuhyun heran. Sementara Minho yang duduk di bangku belakang sibuk memainkan iphone 5-nya.

“Sepertinya pria itu sangat pintar memilih wanita” Changmin memulai percakapan. Pria yang dimaksud adalah target kali ini.

“Kau benar, bahkan wanita yang dikencaninya benar-benar cantik dan berkelas” sahut Kyuhyun bersemangat.

“Untung Aeyeon tidak masuk daftar incarannya” gurau Minho yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun.

….

Ketiga pria itu baru saja sampai di depan Cascais Apartment di daerah Sumsandong. Mereka membagi tugas untuk mencari informasi. Kyuhyun berjalan ke dalam, kemudian duduk di lobi. Entah apa yang dilakukannya, pria itu hanya mengambil headset dan memasangnya ke telinga tanpa memutar lagu. Tak berapa lama ada seorang wanita paru baya yang terlihat mencolok. Dress mahal buatan perancis, dengan tas hermes sebagai pelengkap. Wanita itu berhenti di depan lift yang tak jauh dari Kyuhyun. Seketika wanita itu mengeluarkan ponselnya dengan gerakan gelisah. Dan setelah menerima telefon, wanita itu balik arah kemudian berjalan tergesa-gesa keluar gedung. Kyuhyun kenal wanita itu, Ester Zhang.

“Kena kau nyonya Zhang yang terhormat” gumam Kyuhyun kemudian bangkit berdiri.

….

At Cho Residence, Nowon

Kediaman Cho benar-benar sunyi. Hanya ada nyonya dan pembantu yang menghuni. Sementara anak pertama dan kedua sedang bekerja dan tidak tinggal lagi di rumah ini. Tuan Cho sedang mengurus yayasan yang ada di Tokyo. Nyonya Cho yang sedang menyesap teh hangat mendapat sms dari anak laki-lakinya.

From: Cho Kyuhyun

Eomma kirimkan data semua wanita yang bergabung di WAS (Women Associations Social)

“Pasti ada yang tidak beres” gumam nyonya Cho.

….

At Seoul, On the road

Mobil Kyuhyun melaju beriringan membuntuti sebuah mobil sedan mewah dari belakang. Kyuhyun meninggalkan dua rekannya, bukan karena tidak percaya akan kinerja Changmin dan Minho, tetapi tak ada waktu untuk menunggu kedua pria itu untuk balik ke parkiran sementara target bergerak cepat menjauhi apartment. Tak lama ponsel Kyuhyun berdering, ada nama Minho di tampilan layar.

“Yeobseo Minho-ssi”

“Kyuhyun hyung, neo eodiya? Kenapa kau meninggalkan aku dan Changmin hyung di sini?” suara Minho menekan seolah-olah menuntut jawaban cepat dari Kyuhyun.

“Jangan merengek seolah-olah tak ada cara untuk kembali pulang” ucap Kyuhyun tersenyum mengejek, tatapan pria itu masih terfokus pada mobil yang bergerak lambat di depannya seolah-olah berhasil lolos dari rentenir.

“Apa hyung sedang membuntuti target?” tanya Minho hati-hati. Kyuhyun merubah ekspresinya.

“Apa kau penasaran?” Kyuhyun balik bertanya. Kini terjadi ketegangan di antara keduanya.

“Yak! Apa yang kalian berdua bicarakan? Kyuhyun-ah di mana kau?!” tiba-tiba sudah ada suara pria yang tak asing lagi di telinga Kyuhyun. Sahabatnya Shim Changmin yang tak sabaran merebut ponsel dari genggaman Minho.

“Lebih baik kalian kembali ke Geonggi” ucap Kyuhyun sebelum memutuskan sambungan telefon. Tak sampai lima menit, mobil nyonya Zhang menancap gas dan melaju kenjang berusaha menjauhi mobil Kyuhyun. Seolah-olah telah mengetahui bahwa mereka sedang di buntuti.

….

At Public Cemeteries, Seoul

Angin yang bertiup kencang hanya dapat menerbangkan helaian daun yang jatuh. Seorang pria berpakaian hitam berjalan menghampiri gundukan tanah yang telah ditanami rumput hijau. Pria itu menggenggam sebuah buket bunga dan arak. Melakukan ritual selayaknya kemudian tertunduk lemas dihadapan makam ayah kandungnya.

“Maafkan anakmu yang berdosa ini” ucapnya tertunduk lemas. Seolah tak ingin ada yang melihatnya menangis, pria itu menarik sudut bibirnya. Berdiam diri di depan makam ayahnya, membuang-buang waktunya disana. Hingga ponselnya bergetar, Yizing melihat sekilas siapa penelfon tersebut. Dengan gerakan yang lambat ia mengangkat telfon.

“Yizing! Akhirnya kau mengangkat telfon dari ibu!”

“Cepat katakan”

“Ada agen FBI yang membuntuti mobil ibu, tolong tangani dia. Sekarang ibu ada di kawasan gangnam” jelas Ester Zhang yang ternyata adalah penelfon tersebut. Setelah mendengar penjelasan ibunya, Yizing langsung memutuskan sambungan telefon dan bangkit berdiri.

“Sepertinya wanita itu masih membenci kedekatan kita, aboeji” gumam Yizing setelah itu berjalan meninggalkan makam ayahnya dengan tak lupa membungkukkan badannya sebagai formalitas.

….

At Starbucks, Seoul

Cukup lama Aeyeon terjebak diantara kedua orang yang tengah sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Sementara Aeyeon sibuk memainkan ponselnya dengan harapan jam digital itu cepat menunjukkan pukul 16.00. Bagaikan untaian tali yang saling terhubung, perasaan Aeyeon yang dalam hitungan detik berubah cemas mengarah pada seorang pria, Kyuhyun. Entah apapun yang terjadi, Aeyeon tidak sabar ingin tahu apa yang pria itu lakukan saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah pria itu juga memikirkan Aeyeon?. Dengan gerakan cepat, Aeyeon bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Yoonjae dan Jieun yang saling menatap dengan alis berkerut.

“Mungkin dia cemburu melihat kedekatan kita berdua” ucap Yoonjae percaya diri sehingga mendapatkan tatapan mual dari Jieun.

“Jika kau lebih tampan dari kekasihnya, mungkin aku akan menganggukkan kepala”.

….

Gangnam, Seoul [On the road]

Wajah tampan Kyuhyun ditekukkan, perasaan jengkel pria bermarga Cho itu tak dapat dibendung lagi. Mobil yang dibuntutinya itu hanya terus berputar-putar dikawasan Gangnam. Sesekali pria itu menatap jam yang tak lama lagi menunjukkan pukul 16.00. Mengingat-ngiat bahwa dia ada janji bersama Aeyeon di Namsan Tower. Tak ingin buang waktu lagi, Kyuhyun mengeluarkan tangannya yang menggenggam pistol dan berusaha membidik ban mobil belakang nyonya Zhang, tetapi nyatanya terlebih dahulu ban mobil Kyuhyunlah yang tertembak dari belakang sehingga mobilnya oleng dan menabrak pembatas jalan. Sebuah mobil merah keluaran italia berhenti menghalangi jalanan yang sepi. Seseorang berpakaian hitam keluar dari mobil dengan senyuman yang dibuat-buat.

“Seorang agen profesional kalah cepat dari amatiran sepertiku” Kyuhyun menatap marah pria itu, dengan gerakan cepat Kyuhyun keluar dari mobilnya dan langsung melayangkan tinjunya, namun pria dihadapannya sepertinya bukan orang sembarangan, Kyuhyun terhuyung ke tanah sambil memegang perutnya. Nafas tersengal-sengal menunjukkan Kyuhyun tidak dapat dikatakan tidak apa-apa.

“Apakah wajahku terlihat seperti orang baik-baik? Lihat pisau yang kupegang? Dulu kau menancapkan pisau itu ke perut ayahku. Membiarkannya diseret dengan paksa ke dalam sel. Membiarkan dia kehabisan darah, hingga meninggal” pria dihadapan Kyuhyun menunjukkan kemarahannya yang dibendung selama ini. Kyuhyun mengetahui pisau itu, pisau yang digunakan Kyuhyun saat pertama kali terjun ke lapangan menjalani misi. Dan pisau itu Kyuhyun tancapkan ke tubuh pria China yang merupakan seorang tentara yang mencoba menyuri informasi penting pemerintah Korea Selatan.

“Kau ingat bukan? Hahaha.. sekarang kau berusaha mengejar ibuku yang jalang itu? Karena aku baik, kali ini aku akan membiarkan kau mati perlahan-lahan” setelah mengakhiri kalimat itu, Yizing berjalan memasuki mobilnya dan langsung melaju meninggalkan Kyuhyun terkapar sendirian.

Berkali-kali Kyuhyun berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit yang ada diperutnya yang terus bergemuruh mengeluarkan darah segar. Hingga bayang-banyang Aeyeon terngiang di benaknya, Kyuhyun berhasil bangkit walaupun wajahnya tidak menunjukkan sesungguhnya. Melihat keadaan mobil Kyuhyun yang tidak memungkinkan, akhirya Kyuhyun berjalan ke jalan utama hingga menemukan taxi. Di dalam taxi, Kyuhyun mengecek kemeja hitamnya yang terhalang jaket. Darah yang merah pekat tak dapat menyamarkan warnanya yang membekas dibaju berwarna gelap itu. Sopir taxi yang sesekali melirik Kyuhyun dari kaca spion terlihat khawatir.

“Apa benar kau ingin ke Namsan Tower? Apa perlu ke rumah sakit dulu?” tanya sopir taxi itu dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

“Tidak perlu, ada seseorang yang menungguku” ucap Kyuhyun berusaha tersenyum.

….

At Namsan Tower, Seoul

Aeyeon duduk menatap bangku kosong di sampinya. Seharusnya bangku itu sudah diduduki Kyuhyun dari tiga puluh menit yang lalu. Tidak biasanya Kyuhyun datang terlambat. Menatap daun maple yang berguguran, Aeyeon berusaha tersenyum untuk menghibur dirinya.

“Hingga saat ini kalian masih terlihat indah, walaupun satu persatu mulai meninggalkan tangkainya” gumam gadis itu, seketika angin datang menggiring langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat. Aeyeon menatap orang itu, menunjukkan kelegahan hatinya melihat Kyuhyun datang menemuinya, hal itu menyatakan bahwa Kyuhyun menepati janjinya bahwa akan selalu bertahan untuk mendampingi Aeyeon hingga tua nanti.

“Apa kau baru saja memenangkan lotre?” tanya Kyuhyun sambil mengusap pipi Aeyeon. Gadis itu memegang kedua bahu Kyuhyun, merasakan segala beban yang pria itu tanggung, berusaha membagi beban itu bersama.

“Apa kau dapat dibandingkan dengan sebuah lotre?” kata Aeyeon balik bertanya. Seketika itu Aeyeon memejamkan matanya dan berusaha menghirup nafas sambil memeluk Kyuhyun. Gadis itu membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun masih dengan mata yang terpejam.

“Aku merasakan sakit yang kau sembunyikan Hyun oppa” Kyuhyun mengangkat sudut bibirnya, tersenyum. Dan detik berikutnya Kyuhyun langsung menyambar bibir Aeyeon, melumat bibir mungil itu dengan gerakan lambat berusaha menumpahkan segala sesuatu yang dipendamnya. Di tengah-tengah ciumannya, Kyuhyun berucap dalam hati “Aku bahagia bisa berada di sampingnya, dan kuharap akan selalu seperti ini”. Tetap memperlakukan gadis itu dengan lembut, memperdalam ciuman mereka dengan merengkuh tubuh Aeyeon yang hampir limbung ke belakang. Sesaat rasa sakit yang menyambar perut Kyuhyun terasa menyakitkan akibat bergesekan dengan tubuh Aeyeon. Kyuhyun melepaskan ciuman mereka dengan berat hati. Tetap memasang senyum yang dipaksakan, Kyuhyun merapikan anak rambut Aeyeon yang berantakan akibat ulahnya tadi.

“Sekarang kau ingin berkencan kemana?” tanya Kyuhyun dengan tubuh yang terus berusaha bertahan.

“Ke atas tower! Aku ingin menyentuh awan” ucap Aeyeon bersemangat, Aeyeon langsung melangkahkan kaki duluan sambil menarik tangan Kyuhyun, tetapi pria itu tidak bergeming di tempatnya. Aeyeon menatap Kyuhyun yang kini tertunduk ke atas permukaan tanah sambil memegang perutnya. Gadis itu langsung bergegas memerikasa sesuatu yang disembunyikan Kyuhyun dibalik kemeja hitamnya. Kenyataan yang menampar gadis itu, sungguh bodoh dia membiarkan Kyuhyun membuang waktu untuk menemani Aeyeon disini. Melihat tubuh Kyuhyun yang melemas akibat kekurangan darah, gadis itu bergetar. Tangis yang keluar dari pelupuk matanya tersamarkan dengan rintikan hujan yang turun menerpa sepasang kekasih itu. Berteriak meminta pertolongan sambil berusaha memberikan bantuan darurat untuk menahan aliran darah yang terus keluar.

“Kyuhyun-ah!, Hyun-ppa!, Hyun! Cho Kyu Hyun!!” teriak Aeyeon saat mata Kyuhyun terpejam. Tak lama datang seorang pria tua yang mengenakan seragam diikuti beberapa pengunjung Namsan Tower menghampiri Aeyeon dan Kyuhyun yang terkapar di tanah basah.

“Cepat angkat pria ini ke dalam taxi-ku!” ucap pria tua yang mengenakan baju sopir. Pria tua itulah yang mengantar Kyuhyun ke Namsan Tower tadi. Pria yang mengenakan name tag Byun itu terus menunggu di depan gerbang Namsan Tower karena khawatir. Ada firasat tak mengenakkan saat melihat Kyuhyun yang menyembunyikan luka tusuknya. Setelah mendengar suara minta tolong, tuan Byun langsung mendekati sumber suara dan melihat sesosok pria yang tadi dilihatnya telah terkapar di tanah, dan setelah itu dia datang membawa bala bantuan.

Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Aeyeon terus menangis dengan tangan gemetar. Menatap wajah pucat Kyuhyun, baru kali ini dia melihat wajah damai itu.

“Dia sangat mencintaimu nona. Dia menahan rasa sakit itu demi menemuimu. Apakah ada pria yang lebih baik dari dia? Aku saja malu untuk membandingkan kesetiaan pria itu dengan diriku” suara tuan Byun terasa seperti nyanyian yang membawa Aeyeon mengingat pertemuannya dengan Kyuhyun, apa yang selalu diberikan Kyuhyun kepadanya, sepengertian apa Kyuhyun, tak sebanding dengan apa yang Aeyeon berikan kepada Kyuhyun.

….

At RS International, Seoul

Para medis bergerak cepat memasuki ruang UGD. Orang tua Kyuhyun terus menunggu anaknya yang berada didalam dengan gelisah. Aeyeon dengan baju yang basah dan kini berubah warna menjadi merah masih setia berdiri kaku. Matanya yang sembab dan pucat tak kalah memprihatinkan.

“Apakah rasanya seperti ini yang Kyuhyun cemaskan saat aku berada di dalam ruangan itu?” gumam Aeyeon seperti berbicara pada dirinya sendiri.

….

At Federal Bureau of Investigation Office, Gyenggi-do

Kesibukan di gedung ini tetap terlihat walaupun salah satu agen utamanya sedang tertimpah musibah. Changmin dan Minho yang baru tiba di tempat itu langsung terkejut dengan kabar yang mereka dapatkan. Wajah rekan-rekan yang lain juga menyiratkan kesedihan. Di dalam ruang rapat, Changmin menatap kursi kosong di sampingnya itu. Tak lama layar teleconfrence menyala. Sudah ada seseorang yang dikenal dengan nama Russel William diseberang.

“Saya sudah mendapat kabar bahwa Marcus Cho sedang kritis, untuk sementara kasus penembakan S’Pallegrino saya serahkan kepada Rafael Shim (Shim Changmin) dan sisanya kalian akan dibantu dengan NIS” ucap Russel William melalui teleconfrence dengan menggunakan alat penerjemah.

“Baik” Jawab mereka semua.

….

At Lee Recidence, Seoul

Di ruang yang bergaya klasik, dengan rak-rak buku yang memenuhi ruangan itu ada seorang pria berkaca mata sedang membaca sebuah buku tebal yang entah apa isinya. Sesekali mengepulkan asap dari rokok, kepulan asap mengelilingi dirinya yang paru baya. Tak lama, ketukan pintu diiringi suara seseorang meminta ijin untuk masuk.

“Saya sekertaris Joo” setelah pria yang bernama Joo itu diijinkan untuk masuk, pria itu berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu. Setelah itu, sekertaris Joo kembali keluar ruangan dan membawa seseorang masuk kembali bersamanya.

“Silahkan duduk tuan Choi” sapa pria paru baya itu dengan akrab. Setelah sekertaris Joo meninggalkan ruangan, kedua pria yang ada di dalam ruangan itu langsung masuk ke dalam topik perbincangan.

“Apakah tuan Lee akan selalu memanggilku tuan? Sejujurnya saya keberatan dengan panggilan itu”

“Mungkin sampai aku berhenti bekerja sama denganmu” jawaban tanpa kebohongan keluar mulus dari mulut tuan Lee.

“Baiklah tak ada basa-basi lagi bagi kita berdua, aku datang hanya untuk melaporkan berita gembira untuk anda. Penyelidikan kasus yang menyangkut anda dilimpahkan kepada saya dan NIS sepenuhnya, sedangkan penembakan S’Pallegrino diserahkan kepada rekan saya. Agen yang menjadi penghalang utama sudah ditangani Zhang Yizing” jelas pria bermarga Choi itu.

“Lanjutkan tugasmu”

….

At Someplace

Seorang pria yang diketahui bernama Prof. Kim Joong Kok, diseret paksa memasuki sebuah tempat yang telah disediakan berbagai macam keperluan rakitan. Tempat yang bisa menampung puluhan ribu orang itu akan digunakan untuk merakit kapal selam nuklir. Prof Kim kini telah diperlakukan lebih layak dari sebelumnya.

“Selamat datang kembali ke Korea, Prof” suara seseorang terdengar bagaikan pantulan di ruangan itu.

“Kau pasti mengenali suaraku, tak perlu menatap murka ruangan ini” lanjut orang itu.

“Dimana kau brengsek!?” teriak Prof Kim dengan penjagaan ketat.

“Wah.. seorang professor ternyata bisa mengumpat. Jangan membuang tenagamu untuk menantangku, lebih baik turuti kemauan kami, atau nasibmu akan mengikuti jejak Jang Hui Bin (Jang Hui Bin adalah seorang ratu kedua dari pemerintahan raja Sukjong di kerajaan joseon. Dia meninggal bersama para bawahan dan keluarganya dengan hukuman minum racun)?”

“Baiklah” suara putus asa keluar dari mulut pria bermarga Kim itu.

….

At RS International, Seoul

Aeyeon tertidur pulas di samping tubuh kaku milik Kyuhyun. Sinar matahari menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Setelah Kyuhyun berhasil melewati masa kritisnya, pria itu sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Karena luka tusukan itu mengenai hati, menyebabkan pria itu mendapati infeksi karena membiarkannya berlarut-larut. Sampai detik ini, Kyuhyun belum sadar. Tersesat entah di dunia mana, berusaha menemukan jalan keluar untuk kembali pulang. Begitu pula dengan Aeyeon yang masih berada di alam mimpi, dengan nafas tersengal-sengal, wajah pucat karena kelelahan, tampak compang camping tidak terurus, berusaha membantu Kyuhyun kembali pulang, walaupun ia tidak tahu dimana keberadaan Kyuhyun.

Pintu ruangan itu terbuka, nyonya Cho masuk sambil membawa kotak makanan. Ruangan yang berbau bunga lily itu masih terasa sunyi. Hanya derap langkah nyonya Cho yang mendekat ke arah Aeyeonlah yang terdengar. Nyonya Cho memperhatikan wajah Aeyeon dengan seksama, kemudian dia tersenyum tulus. Jiwa keibuannya terbagi.

“Jika kau berusaha membantu Kyuhyun, bantulah dirimu terlebih dahulu” suara keibuan Kyuhyun bergema di pikiran Aeyeon, bagaikan panggilan ibu peri yang memberi clue kepada anak malang yang tersesat.

….

At Mokpo, South Korea

Terombang-ambing di atas ombak yang melambai-lambai, terpaan angin mengibaskan bendera. Lee Donghae, seorang nelayan yang tengah menarikkan jaring yang telah dipasangnya semalam dengan susah payah. Keringat yang menetes dari pelipisnya menandakan orang itu tengah bekerja keras. Sudah menjadi pekerjaan sehari-harinya pulang pergi ke laut untuk meraih nafkah. Pria itu tinggal bersama ibunya yang menjanda mati. Ayahnya telah meninggal dunia. Walaupun dia cerdas dan sudah sering mendapat tawaran pekerjaan, pria itu lebih memilih merawat ibunya.

Setelah jaringnya naik ke atas perahu dan mendapat tangkapan yang lumayan, saatnya Donghae kembali ke bibir pantai. Dia adalah pria polos dengan dialek mokponya yang khas. Setelah tiba di bibir pantai, ibu Donghae sudah menunggu kedatangan anaknya.

“Hae-ah, dari tadi malam ponselmu berdering berkali-kali. Ibu tidak tahu cara memakainya, makanya ibu membiarkan ponsel itu mengganggu tidurku. Seperti itu telefon penting Hae-ah” adu Ibu Donghae saat anaknya turun dari perahu sembari membawa ikan-ikan hasil tangkapan.

“Padahal saat tidur semalam aku memimpikan seorang ibu yang menyambut anaknya dengan pertanyaan apakah kau baik-baik saja, kau dapat tangkapan apa saja, kau ingin ibu masakan apa ?”kata Donghae dengan wajah yang dibuat-buat sehingga mendapat jitakan dari ibunya.

“Ibu lagi bicara serius!” ujar ibunya yang dijawab dengan pelukan dari anaknya itu.

….

Suara lantunan piano bergema di ruangan yang serba putih tanpa ujungnya itu. Seorang gadis yang bernama Aeyeon itu tengah menangis memeluk lututnya. Ruangan kosong yang luas itu hanya akan membuat pandangan mata kalian berlari-lari mencari tembok pembatas yang tidak ada.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Aeyeon sedih pada dirinya sendiri.

“Aku tidak bisa menemukan Kyuhyun, aku tidak bisa membantu Kyuhyun, aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku gadis yang tidak berguna” gumam Aeyeon tertunduk. Semua gejolak dia rasakan, seakan datang untuk menampar dirinya sendiri.

Tiba-tiba cahaya yang menyilaukan datang mendekat, semakin dekat, mendekati Aeyeon. Terdengar suara damai yang menyapa gadis itu.

“Jika kau berusaha membantu Kyuhyun, bantulah dirimu terlebih dahulu”

Suara damai itu membantu Aeyeon bangkit dari keterpurukan. Aeyeon menatap penampilannya sendiri. Seperti pengemis yang mencari sebuah permata yang telah hilang. Gadis itu tersadar, ia langkahkan kakinya mengikuti cahaya dengan pasti, hingga sampai pada ujung cahaya yang berasal dari sehelai daun maple.

 

To be continue

 

Advertisements

4 thoughts on “[CHAPTER] TROUBLE – Part 5 : Political Turnover

  1. Audrey Riley

    kalau ga salah tanggap, itu ada musuh dalam selimut? ngomong2 soal zhang yizing bisa jadi suatu saat nanti dia juga bakal ngincer aeyeon. kyu masih belum sadar T___T

  2. khalepa

    Kereeeeennnn….
    Lanjut segera ya mbak author….
    Please…….
    Aq suka yg action gini….
    Seribu jempol deh.. 😉 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s